Gentong Bekas Padasan / Pancuran Berwudhu

Gentong Bekas Padasan / Pancuran Berwudhu
Beberapa saat aku tertegun melihat sebuah gentong bekas padasan berada di sudut sebuah kebun pekarangan. Beberapa bagian sudah mulai berlubang dan rusak karena termakan waktu. Alat bantu untuk berwudhu pemiliknya tersebut sengaja meletakkannya berada di sudut kebun pekarangannya karena keberadaannya sudah tergantikan oleh pompa air yang secara otomatis akan mengisi bak penampungan air dan tinggal memutar kran untuk mengalirkan airnya.

"Padasan sendiri adalah suatu wadah air yang biasanya dari gerabah dan ada lubang untuk mengalirkan airnya yang digunakan untuk berwudhu"

Ada pertanyaan dalam hatiku ini. Mengapa gentong bekas padasan tersebut tidak dihancurkan saja. Padahal benda itu sudah jelas tidak dipakai atau digunakan lagi. Tetapi bekas padasan itu hanya diletakkan di pojok pekarangan dan dibiarkan agar alam yang memprosas keberadaannya.

Butuh waktu yang lumayan cukup lama untuk aku mencoba menemukan jawaban dari pertanyaanku ini. Dan akhirnya aku mencoba sendiri menjawabnya atas pertanyaan yang ada dalam hatiku ini.

Mengapa gentong bekas padasan tersebut tidak dihancurkan saja ?

Walau gentong tersebut sebuah benda yang sudah tidak berguna atau tidak digunakan lagi, tetapi mungkin saja pemiliknya sangat menghargai barang tersebut atas jasanya membantu pemiliknya dan orang lain untuk bersuci atau berwudhu. Jasa barang itu pastilah sangat besar bagi pemiliknya. Mungkin sudah bertahun tahun memudahkan pemiliknya untuk mengambil air wudhu sebelum melakukan sholat dan kegiatan lainnya. Andai saja pekerjaan itu dilakukan oleh orang yang bekerja, entah berapa nilai rupiah yang harus dibayarnya.
Mungkin karena jasanya itulah pemiliknya tidak serta merta menghancurkannya karena sudah tidak terpakai lagi. Tetapi hanya meletakkannya di sudut pekarangan rumahnya dan biarkan waktu yang memprosesnya.

Kalau memang jawabannya seperti apa yang ada dalam pikiranku ini, kisah gentong bekas padasan ini bisa kita jadikan pelajaran dalam kehidupan ini.
Kalau saat masih bisa bermanfaat, kita berjuang dan melakukan kebaikan dengan tanpa pamprih (Sepi Ing Pamprih Rame Ing Gawe) untuk orang lain termasuk keluarga kita dan lingkungan kita atau mungkin bangsa ini, andai kita sudah tidak mampu berkarya lagi dan peran kita sudah digantikan oleh generasi penerus yang lebih baik, pastinya jasa-jasa kita akan tetap dikenang dan keberadaan kita tidak akan diabaikan begitu saja. Kalau tenaga sudah tidak terpakai bisa jadi saran dan pikiran tetap dijadikan acuan atau minimal keberadaan kita tetap akan dihargai.

Kebaikan yang kita tanam tentunya kebaikan pula yang akan kita panen.
Mari kita berusaha melakukan kebaikan sebatas kemampuan kita agar hidup kita bermanfaat bagi keluarga kita, lingkungan kita dan bangsa kita. Biar kelak di kemudian hari disaat kita tidak mampu berbuat apa-apa, keberadaan kita tetap di hargai dan tidak dihancurkan dan diabaikan begitu saja.

"Gentong bekas padasan, besar jasamu sungguh tiada terlupakan"
Semoga Bermanfaat.
Sundul

Artikel Terkait



Comments
0 Comments

0 komentar: